Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

Saturday, June 1, 2013

5 Hal Penting Saat Memilih Universitas

Sudah memiliki jurusan atau bidang yang Anda minati untuk kuliah? Itu belum cukup. Anda juga perlu memilih universitas yang tepat untuk belajar bidang studi tersebut.

Pasalnya, tak semua universitas dengan bidang studi tertentu memiliki kualitas yang tepercaya. Anda harus cakap memilihnya. QS Top Universities berbagi lima hal penting yang harus diperhatikan saat memilih universitas. Apa saja?

1. Peringkat universitas
Informasi tentang pemeringkatan perguruan tinggi perlu diketahui jika Anda bertujuan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia maupun di dunia. Cobalah cari pemeringkatan perguruan tinggi berdasarkan jurusan yang memang Anda tuju.

Namun ingat, pemeringkatan ini sifatnya dinamis. Selain peringkatnya, Anda perlu memastikan metodologi dan indikator pemeringkatan tersebut. Ini juga berguna untuk mencocokkan indikator pemeringkatan dan kriteria perguruan tinggi yang memang ingin Anda tuju.

2. Sistem penilaian
Sistem penilaian atau rating untuk suatu perguruan tinggi akan membantu Anda membandingkan institusi pendidikan yang berbeda. Biasanya, penilaian disertai dengan informasi detail mengenai keunggulan dari suatu perguruan tinggi dan program studi yang ada di dalamnya.

3. Pendapat para ahli
Peringkat dan sistem penilaian atau rating biasanya diperkuat oleh pendapat para ahli. Coba temukan artikel yang ditulis oleh orang-orang yang memang tahu banyak tentang pendidikan tinggi dan bersedia memberikan masukan dan prediksi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan tertentu.

Semuanya bisa ditemukan dengan mudah di internet, termasuk juga Twitter. Sediakan waktu untuk melakukan riset kecil-kecilan karena itu akan memengaruhi pilihanmu nantinya. Selain itu, manfaatkan jaringan dengan para alumninya untuk memeroleh informasi sebanyak-banyaknya mengenai program studi dan universitas yang ingin Anda tuju.

4. Pameran pendidikan
Jika universitas yang Anda tuju menggelar pameran pendidikan, tentu Anda wajib menghadirinya. Hadir dalam ajang ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengetahui seperti apa kehidupan di universitas tersebut, bagaimana proses untuk masuk dan tentu saja untuk menjawab segala pertanyaan Anda yang belum terjawab.

5. Petunjuk lokasi
Jika Anda berencana kuliah di luar kota, atau bahkan luar negeri, proses seleksi perguruan tinggi juga perlu mencakup riset kecil mengenai lokasi dan lingkungan sekitarnya.

Perhatikan lingkungan di sekitar kampus, termasuk tempat tinggal dan fasilitas penunjang kehidupan sehari-harinya. Ini termasuk faktor X yang akan memengaruhi prestasi Anda nantinya di bangku kuliah. Jika Anda memilih studi ke luar negeri, pikirkan cuaca, seperti suhu, di daerah tersebut. Pikirkan juga kemampuan Anda berbahasa lokal.

Jadi, sudah yakinkah Anda dengan pilihan universitas Anda sekarang?

sumber: edukasi.kompas.com

Saturday, May 11, 2013

Agar Aplikasi Studi ke Luar Negeri Dilirik

Banyak kesempatan untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri, baik dengan beasiswa maupun biaya sendiri. Namun, banyak yang melewatkan kesempatan tersebut karena ketidaktahuan dalam memenuhi syarat-syarat akademiknya.

Andhika Sahadewa berbagi tips yang cukup detail mengenai cara memenuhi syarat-syarat saat mengajukan aplikasi studi ke luar negeri. Meski dia menuliskan berdasarkan pengalamannya melanjutkan studi S-3 jurusan Teknik Sipil bidang Geoteknik di University of Michigan, Ann Arbor, Andhika meyakinkan tips ini juga dapat digunakan oleh para kandidat yang ingin melamar studi ke negara lain.

Jadi, jika pusing soal GPA Trancript, TOELF dan IELTS, GRE, GMAT, statement of purpose, personal history statement, recommendation letter, atau juga curriculum vitae yang ideal, tulisan Andhika ini bisa memberikan pencerahan.



"Prosedur Aplikasi Pendidikan Pascasarjana"

Banyak mahasiswa Indonesia yang berkeinginan untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi Amerika. Sayangnya, tidak mudah bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia untuk mendapat kesempatan belajar di Amerika. Hal ini bisa saja terjadi hanya karena ketidaktahuan mereka untuk meraih kesempatan tersebut.

Alhamdulillah, aku beruntung mempunyai teman yang mau berbagi informasi mengenai cara untuk sekolah pasca sarjana di Amerika. Bahkan, dia memberi tahu cara dan saran supaya bisa sekolah gratis di sana. Sekarang, giliranku untuk menceritakan langkah perjuangan yang mesti kita tempuh untuk bisa kuliah gratis di Amerika kepada teman – teman semua. Tulisan – tulisan di sini juga dapat digunakan oleh teman – teman yang sudah memiliki dana pribadi, beasiswa, atau sponsor agar bisa diterima di perguruan tinggi Amerika. Teman – teman yang sedang menyelesaikan S1 juga bisa menggunakan tulisan ini sebagai persiapan untuk melanjutkan belajar di Amerika. Selain itu, cara dan saran yang aku tuliskan di sini juga dapat diterapkan oleh teman – teman yang ingin melanjutkan sekolah ke negara selain Amerika.

Semoga tulisan – tulisan ini bisa menjadi perjalanan awal teman – teman untuk pada akhirnya dapat melanjutkan sekolah di luar negeri, khususnya Amerika…aamiin aamiin aamiin. Dalam tulisan ini, aku fokus untuk menyampaikan langkah – langkah yang mesti teman – teman lakukan untuk dapat memperoleh status diterima. Pada tulisan berikutnya, aku akan membahas tentang bagaimana caranya mendapat financial support agar dapat bersekolah gratis. Silahkan disimak, teman – teman.

Pilih-pilih sekolah

Pertama – tama, kita mesti cari dulu perguruan tinggi Amerika yang menjadi target kita. Teman – teman bisa mendapat berbagai informasi tentang perguruan tinggi Amerika di website U.S. News & World Report. Website ini tidak hanya memberi informasi tentang peringkat perguruan tinggi Amerika, tapi juga memberi informasi tentang biaya kuliah, persentase kemungkinan kita diterima, link untuk mendaftar ke berbagai perguruan tinggi, dan berbagai infomasi lainnya.

Website di atas juga memberi informasi mengenai peringkat perguruan tinggi berdasarkan jurusan. Dengan demikian, kita bisa tahu perguruan tinggi Amerika yang terbaik di bidang Teknik Kimia, misalnya. Jangan cuma naksir satu perguruan tinggi, naksirlah sebanyak – banyaknya agar peluang kita semakin besar. Dalam hal ini, kita bisa mendaftar ke berbagai perguruan tinggi yang berbeda untuk memperbesar peluang kita. Jangan lupa untuk mendaftar juga ke perguruan tinggi yang kita yakini kita dapat diterima.

Selanjutnya, kita bisa mengunjungi website perguruan tinggi yang diincar. Sebaiknya kita langsung ke website department atau jurusan dari perguruan tinggi tersebut. Alamat website jurusan bisa dicari menggunakan Google. Misalnya, kita bisa masukkan keyword “Mechanical Engineering Stanford” jika kita mengincar Teknik Mesin di Stanford University. Dari website jurusan tersebut, kita bisa mendapatkan berbagai informasi. Untuk mencari informasi pendaftaran, kita bisa masuk ke bagian “Prospective Student” maupun ”Admission”. Dengan demikian, kita bisa mengetahui cara untuk mendaftar, persyaratan – persyaratan yang dibutuhkan, dan deadline pengumpulan materi syarat – syarat pendaftaran.

Di website jurusan, kita juga bisa memperoleh informasi contact person profesor – profesor dan minat penelitian mereka. Biasanya, kita dapat memperoleh informasi tersebut dengan cara mengklik bagian “Faculty” ataupun “People”.

Setelah mencari informasi syarat pendaftaran dari setiap perguruan tinggi, pasti kita sadar bahwa secara umum persyaratan untuk mahasiswa Indonesia/Internasional adalah sebagai berikut:

• GPA transcript.
• Nilai TOEFL (Paper-based Test [PBT] atau Internet-based Test [IBT]) atau IELTS.
• Nilai Graduate Record Examination (GRE) general test untuk jurusan teknik, jurusan sains, dan jurusan sosial. Nilai Graduate Management Admission Test (GMAT) atau GRE general test untuk sekolah bisnis/ekonomi. Nilai Medical College Admission Test (MCAT) untuk sekolah kedokteran umum. Nilai Dental Admission Test (DAT) untuk sekolah kedoketeran gigi. Nilai Law School Admission Test (LSAT) untuk sekolah hukum. Nilai Pharmacy College Admission Test (PCAT) untuk sekolah farmasi.
• Statement of purpose
• Personal history statement
• Recommendation letter (surat rekomendasi) online-based atau paper-based
• Resume/Curriculum Vitae
• Interview sebagai persyaratan dari beberapa sekolah bisnis di Amerika

Syarat – syarat di atas bakal dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi komite penerimaan (admission committee). Dalam bagian ‘JADI CUMA INI AJA YANG KITA BUTUHKAN’, aku bakal bahas satu persatu mengenai syarat – syarat di atas.

Pendaftaran

Departement atau jurusan biasanya membuka pendaftaran 2 kali dalam setahun. Pertama, pendaftaran untuk semester ganjil atau Fall (kuliah dimulai bulan Agustus atau September). Kedua, pendaftaran untuk semester genap atau Spring (kuliah dimulai sekitar bulan Januari atau Februari). Deadline pendaftaran Fall biasanya pada bulan Desember atau Januari sedangkan untuk Spring adalah sekitar bulan September. Deadline setiap jurusan dalam satu perguruan tinggi bisa berbeda – beda. Sebaiknya, teman – teman cari tahu informasi mengenai deadline pendaftaran terlebih dahulu supaya pendaftaran dapat dipersiapkan dengan baik. Sebagai gambaran, jika kita ingin mulai kuliah di Fall 2013 maka paling lambat kita mesti sudah memiliki semua persyaratan yang dibutuhkan di bulan Desember 2012.

Selain Fall dan Spring, perguruan tinggi Amerika juga membuka program atau kelas di Summer yang bertepatan dengan pelaksanaan semester pendek di Indonesia. Kegiatan di Summer biasanya adalah program pertukaran pelajar maupun kelas – kelas mata kuliah tertentu. Kegiatan tersebut biasanya membutuhkan biaya yang relatif mahal daripada Fall dan Spring.

Pendaftaran ke perguruan tinggi Amerika dapat dilakukan secara paper-based dan online. Aku sarankan teman – teman untuk mendaftar secara online karena lebih praktis dan hemat. Link ke online application bisa diperoleh dari website jurusan tersebut di bagian “Prospective Student” maupun ”Admission”. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan link online application dengan terlebih dahulu mengklik nama perguruan tinggi yang kita inginkan.

Online application mengharuskan kita untuk membuat sebuah akun. Jika sudah memiliki akun maka kita dapat log in ke halaman pendaftaran. Umumnya, dalam halaman tersebut terdapat berbagai pertanyaan yang mesti kita isi, seperti data – data pribadi kita, nama perguruan tinggi dan GPA kita sebelumnya, maupun nilai – nilai standardized test (TOEFL, IELTS, GRE, GMAT, MCAT, DAT, LSAT, dan PCAT). Melalui halaman pendaftaran, kita juga dapat meng-upload esei statement of purpose, curriculum vitae, dan informasi lainnya. Selain itu, melalui online application, kita bisa mengirimkan permintaan online recommendation kepada orang – orang yang kita pilih. Jika kita tidak bisa mengisi semua pertanyaan dalam satu waktu maka kita dapat sign out dan melanjutkannya di lain waktu. Apabila semua pertanyaan dalam halaman online application sudah terjawab dan informasi yang diminta sudah ter-upload maka kita bisa submit aplikasi lamaran kita. Dalam proses submit, kita akan diberi tahu cara pembayaran biaya pendaftaran. Salah satu cara yang paling sering ditawarkan adalah pembayaran menggunakan credit card dan debit card. Umumnya, biaya pendaftaran biasanya berkisar antara $40 sampai dengan $90.

Jadi Cuma Ini Aja yang Kita Butuhkan

GPA Transcript
GPA atau IPK merupakan parameter yang digunakan oleh admission committee untuk mengetahui catatan akademik pelamar dari perguruan tingginya yang lalu. Jika memungkinkan, data dalam transkrip ini juga digunakan untuk mengetahui ranking kelas (class rank) dari pelamar. Secara umum, sebagian besar perguruan tinggi di Amerika menyaratkan pelamar untuk memiliki GPA minimal 3,00 dalam skala maksimum 4,00. Jika GPA S1 teman – teman di bawah 3,00 dan ingin sekolah di perguruan tinggi top Amerika, aku sarankan untuk mengambil S2 di Indonesia dan usahakan untuk memperoleh GPA yang tinggi dan selanjutnya mengambil S2 lagi atau S3 di Amerika. Beberapa perguruan tinggi masih memperbolehkan pelamar yang memiliki GPA di bawah 3,00 untuk mendaftar. Dalam hal ini, pelamar akan memperoleh provisional status jika pelamar tersebut diterima. Silahkan teman – teman mencari informasi tentang GPA ini lebih lengkap di website department dari perguruan tinggi yang diminati.

Sebenarnya, perguruan tinggi Amerika meminta agar pihak perguruan tinggi Indonesia mengirimkan transkrip kita secara langsung. Jika hal ini tidak memungkinkan, kita bisa meminta Tata Usaha (TU) untuk memberikan transkrip terlegalisir dan stempel cap segel perguruan tinggi dan paraf pegawai TU pemberi stempel cap pada setiap lipatan penutup amplop. Selanjutnya, kita dapat mengirim transkrip tersebut ke perguruan tinggi Amerika yang diminati melalui jasa pos.

Peluang untuk memperoleh financial support sejak semester pertama akan menjadi lebih besar jika class rank kita termasuk dalam top 5% di angkatan kita. Perlu kita ketahui bahwa GPA 3,78 yang sudah sangat tinggi di Indonesia bisa menjadi GPA yang biasa – biasa saja di Amerika. Dengan demikian, kita perlu menunjukan kepada admission committee bahwa GPA tersebut tinggi. Jika class rank kita tinggi dan perguruan tinggi kita di Indonesia mau memberikan informasi tertulis mengenai class rank kita, aku sarankan untuk menyertakan informasi ini dalam lamaran. Sepengetahuanku, informasi tertulis mengenai class rank ini bisa kita minta dari kantor Tata Usaha (TU) jurusan. Namun, jika pihak perguruan tinggi tidak bisa memberikannya, kita bisa menyertakan informasi ini pada bagian recommendation letter dari dosen kita (akan dibahas dalam tulisan berikutnya).

Jangan khawatir jika GPA dan class rank teman – teman apa adanya. InsyaAllah, masih ada kesempatan besar bagi teman – teman untuk bisa kuliah gratis di Amerika. GPA bukanlah satu – satunya faktor penentu acceptance dan pemberian financial support. Masih banyak hal lain yang dipertimbangkan oleh admission commitee untuk menerima ataupun menolak lamaran teman – teman. Pertimbangan lain tersebut adalah, nilai standardized test, surat rekomendasi, dan PDKT kita kepada profesor di Amerika. Untuk mendapatkan informasi tersebut, silahkan teman – teman baca bagian – bagian selanjutnya dan tulisan aku yang lain.

TOEFL dan IELTS

TOEFL dan IELTS merupakan syarat tambahan untuk mengevaluasi kemampuan berbahasa Inggris bagi pelamar yang bukan native speaker. Namun demikian, umumnya seorang pelamar tidak perlu mengikuti TOEFL atau IELTS jika dia sebelumnya lulus dari perguruan tinggi yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. TOEFL biasanya diminta oleh perguruan tinggi yang berbasis Amerika Serikat sedangkan IELTS umumnya diminta oleh perguruan tinggi yang berbasis Inggris dan commonwealth-nya (Australia, New Zealand, dan sebagainya). Namun, ada juga perguruan tinggi yang mau menerima TOEFL maupun IELTS. Pada kesempatan ini, aku hanya akan berbicara mengenai TOEFL saja.

Saat ini ETS, badan penyelenggara TOEFL International, menawarkan dua pilihan TOEFL yaitu Paper-based Test (PBT) dan Internet-based Test (IBT). Umumnya, berbagai perguruan tinggi di Amerika masih mau menerima kedua jenis TOEFL tersebut. PBT terdiri dari 3 bagian utama, yaitu listening, structure, dan reading ditambah bagian tambahan berupa Test of Written English (TWE). Nilai rata – rata dari 3 bagian utama tersebut merupakan nilai TOEFL asli dengan skala 310 – 677 sedangkan nilai TWE yang memiliki skala 0 – 6 akan disampaikan secara terpisah. Selanjutnya, IBT atau next generation TOEFL memiliki 4 bagian utama yaitu, reading, listening, writing, dan speaking. Masing – masing bagian memiliki skala nilai 0 – 30 sehingga skala total nilai TOEFL IBT adalah 0 – 120. Setiap jurusan dan perguruan tinggi memberikan syarat nilai minimum TOEFL yang berbeda – beda.

Bagi orang Indonesia yang jarang berbicara bahasa Inggris, PBT dapat menjadi pilihan yang lebih baik karena TOEFL jenis ini tidak meliputi tes speaking. Setahuku, PBT diadakan sebanyak 6 kali dalam setahun. Namun, sepertinya sekarang ini ETS hanya menawarkan TOEFL IBT di Indonesia. Dengan demikian, kemungkinan untuk saat ini TOEFL IBT menjadi satu – satunya pilihan. Keuntungan memilih TOEFL IBT ini adalah bahwa kita tidak diharuskan untuk mempelajari structure bahasa Inggris secara mendalam karena tidak ada bagian structure dalam TOEFL jenis ini. Namun jika teman – teman lebih memilih TOEFL PBT, silahkan teman – teman kunjungi website ETS sekitar bulan Juni untuk mendapatkan jadwal TOEFL PBT.

Jika kita mengikuti TOEFL International maka ETS akan memberikan tawaran kepada kita untuk menentukan 4 perguruan tinggi yang akan menerima hasil TOEFL kita. Sebagian besar perguruan tinggi Amerika hanya mau mengakui nilai TOEFL kita melalui surat resmi yang dikirim langsung oleh ETS ke perguruan tinggi tersebut. Jika kita mendaftar ke 6 perguruan tinggi, kita bisa meminta ETS untuk mengirimkan hasil TOEFL ke 2 perguruan tinggi lainnya dengan biaya tambahan. Informasi pendaftaran tes ini dapat diperoleh melalui website ETS. Saat tulisan ini aku buat (Maret 2009), biaya TOEFL sebesar $150 (PBT) dan $170 (IBT). Karena tes ini relatif mahal maka persiapkan diri sebaik – baiknya. Untuk persiapan TOEFL PBT, aku sarankan teman – teman untuk menggunakan buku Cliff’s TOEFL Preparation Guide karangan Pyle dan Page.

GRE, GMAT, MCAT, DAT, LSAT, dan PCAT

Tes GRE, GMAT, MCAT, DAT, LSAT, dan PCAT merupakan tes standard yang digunakan oleh admission committee untuk membandingkan kemampuan potensi akademik dari setiap pelamar. Tes ini penting karena GPA kurang sesuai untuk digunakan sebagai pembanding antar pelamar yang berasal dari perguruan tinggi yang berbeda – beda.

Aku hanya akan membahas GRE saja dalam kesempatan ini. Secara umum, tes GRE saat ini (Maret 2009) dapat dibedakan menjadi general test dan subject test. General test meliputi ujian analytical writing (skala 0 – 6), quantitative (skala 0 – 800), dan verbal (skala 0 – 800). Sementara itu, subject test ini berisi ujian khusus untuk jurusan tertentu, seperti subject test kimia, subject test musik, dan sebagainya. Umumnya, pelamar jurusan teknik hanya memerlukan general test saja. Sebagian besar perguruan tinggi Amerika tidak menetapkan nilai minimum GRE dalam persyaratan pendaftaran. Namun demikian, nilai GRE yang tinggi khususnya akan sangat membantu teman – teman yang memiliki GPA kurang tinggi.

Bagian yang paling sulit dari general test adalah ujian verbal. Kita bakal berhadapan dengan kata – kata aneh yang bahkan kurang popular dalam masyarakat native English speaker sekalipun. Ujian verbal ini merupakan ujian pilihan ganda yang meliputi bagian reading, sentence completion, antonym dan analogy. Bagian reading ini susah sekali karena kalimatnya panjang – panjang dan terdapat banyak kata – kata yang asing. Sentence completion ini serupa dengan pelajaran mengisi titik – titik dalam pelajaran bahasa Indonesia di SD. Namun, tetap saja bagian ini juga susah sekali karena kita sulit untuk memahami tulisan yang diberikan. Selanjutnya, bagian antonym menyajikan kata yang mesti kita cari lawannya dalam pilihan ganda. Terakhir, bagian analogy memberikan 2 kata yang mesti kita cari hubungannya. Jika kita telah menemukan hubungannya, maka kita dapat memilih 2 pasang kata dalam pilihan berganda yang memiliki hubungan yang sama seperti hubungan 2 kata yang ditanyakan.

Bagian quantitative dari general test ini insyaAllah akan sangat lebih mudah dikerjakan daripada bagain verbal. Dengan kemampuan matematika dasar, aku pikir insyaAllah akan mudah bagi kita untuk memperoleh skor sempurna.

ETS sebagai penyelenggara GRE akan memberikan tawaran kepada kita untuk menentukan 4 perguruan tinggi yang akan menerima hasil GRE kita. Sebagian besar perguruan tinggi Amerika hanya mau menerima nilai GRE resmi yang dikirim dari ETS langsung ke perguruan tinggi tersebut. Informasi pendaftaran GRE dapat diperoleh melalui website ETS. Untuk saat ini (Maret 2009) biaya GRE relatif mahal, yaitu sebesar $ 170. Jika hasil GRE kita kurang memuaskan maka kita dapat mengambil tes ini lagi. Dalam sebulan kita diperbolehkan mengikuti tes ini satu kali. Sebagai catatan tambahan, sekarang (Maret 2009) ETS sedang mengkaji untuk menambah beberapa tipe soal baru dalam general test.

Statement of Purpose

Statement of purpose merupakan esei yang menceritakan tujuan yang ingin kita raih dengan sekolah di perguruan tinggi yang kita inginkan. Secara umum, isi dari esei dapat berupa perjalanan hidup kita dalam bidang akademik di perguruan tinggi, alasan kita tertarik pada perguruan tinggi yang kita dambakan, minat riset kita, paper dan karya tulisan kita, dan tujuan yang ingin kita capai sekaligus persiapan kita untuk mencapai tujuan tersebut. Jika teman – teman sudah bekerja, maka pengalaman bekerja juga dapat menjadi nilai lebih untuk dituliskan di esei ini.

Personal History Statement

Selain meminta esei statement of purpose, beberapa perguruan tinggi juga meminta esei personal history statement sebagai salah satu syarat pendaftaran. Dalam personal history statement, kita dapat bercerita mengenai latar belakang dan pengalaman hidup kita, meliputi budaya, pendidikan, keuangan, serta hal – hal lainnya, yang memotivasi kita untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang kita dambakan.

Recommendation Letter

Admission committee menggunakan recommendation letter sebagai salah satu kriteria penentuan dalam seleksi mahasiswa. Recommendation letter dapat dibuat oleh 2 – 3 orang, yaitu dosen ataupun atasan kerja kita. Umumnya, pihak perguruan tinggi sudah menyediakan form tertentu yang berisi pertanyaan mengenai class rank kita, seberapa lama pengisi mengenal kita, penilaian kemampuan kita dalam menulis, melakukan riset, berbicara, dan lain sebagainya. Selain itu, form recommendation letter juga memberikan kesempatan pada pengisi untuk menuliskan esei tentang diri kita.

Recommendation letter dapat dikumpulkan secara online maupun melalui pos. Online recommendation ini dapat memangkas biaya pengiriman pos. Namun, hal ini tampaknya agak mempersulit dosen atau atasan kerja kita dalam pengisiannya. Mereka akan lebih merasa nyaman untuk mengisi paper-based recommendation. Form paper-based recommendation dapat kita peroleh di website perguruan tinggi yang kita dambakan.

Resume/Curriculum Vitae

Kadang kala sebuah perguruan tinggi juga memberi pilihan untuk meng-upload  resume/CV kita. Jika resume ini memang sudah disiapkan untuk satu sekolah, akanlah menguntungkan jika resume ini juga diikut-sertakan dalam pendaftaran sekolah-sekolah lainnya kalau diperbolehkan. Sebuah resume memuat info mengenai pendidikan, pekerjaan, aktivitas ekstrakulikuler, community service (keterlibatan dalam aktivitas nirlaba), dan juga penghargaan-penghargaan yang kita peroleh. Aktivitas riset juga dapat dijabarkan secara lebih terperinci. Resume bersifat lebih objektif dalam menyampaikan informasi mengenai diri kita dibandingkan dengan esei Statement of Purpose atau Personal History Statement dan akan melengkapi esei-esei ini.

Saturday, May 4, 2013

Tips Mendapatkan Beasiswa Pascasarjana (2)

Masih ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan untuk agar bisa meraih beasiswa pascasarjana setelah diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Apa saja?

Simak tips lanjutan dari Andhika Sadewa yang diuraikannya melalui Indonesia Mengglobal.



Persiapkan Essay Letter of Recommendation Terbaik
Dalam membuat bagian esei di recommendation letter, sebaiknya kita sendiri yang membuat esei tersebut. Selanjutnya, kita dapat meminta persetujuan dosen mengenai esei yang kita buat. Esei tersebut sebaiknya berisi tentang hal berikut ini:

- Sejak kapan dan dalam kesempatan apa kita berkenalan dengan pengisi recommendation letter.
- Kegiatan apa saja yang sudah kita lakukan bersama pengisi recommendation letter.
- Personality kita di mata pengisi recommendation letter.
- Class rank kita di angkatan kita jika bagus dan memperkuat lamaran kita.
- Bagian kesimpulan dari esei dapat berisi mengenai seberapa jauh pengisi merekomendasikan kita.

Secara umum, perguruan tinggi menyarankan recommendation letter ini diisi oleh pihak akademisi, misalnya dosen pembimbing tugas akhir kita. Namun, atasan kerja kita juga diperbolehkan menjadi pengisi recommendation letter untuk kita.

Perguruan tinggi Amerika meminta agar pengisi recommendation letter mengirimkan transkrip kita secara langsung. Jika tidak memungkinkan, kita bisa mengirimkannya sendiri. Namun, jangan lupa meminta pengisi untuk memberikan tanda tangan pada setiap lipatan penutup amplop.

Di bawah terdapat beberapa contoh recommendation letter. Oh iya, jangan lupa buat meminta pengisi untuk mengisi bagian kuesioner recommendation letter. Selain itu, teman – teman juga mesti memberitahu deadline pengumpulan aplikasi pendaftaran kepada pengisi.

Kita pengin jadi profesor

Essay statement of purpose dapat menjadi sarana buat kita untuk menarik hati profesor – profesor Amerika. Jika mereka terpikat oleh rayuan kita dalam statement of purpose maka insyaAllah bisa dipastikan kita dapat financial support. Secara umum, boleh dikatakan bahwa profesor – profesor Amerika mudah tertarik pada calon mahasiswa yang ingin mengejar karir dalam bidang akademik dan memiliki minat yang tinggi dalam penelitian. Dengan demikian agar peluang memperoleh financial support menjadi lebih besar, kita perlu mencantumkan beberapa hal berikut ini dalam statement of purpose:

- Tujuan kita adalah mengejar karir di bidang akademik untuk menjadi profesor di Indonesia. Kata “Professor” sengaja digunakan di sini untuk memberi penekanan yang lebih dari pada kata “Dosen” atau “Lecturer”. Terlepas dari cita – cita teman – teman sebenarnya, sebaiknya teman – teman tuliskan saja bahwa cita – cita teman – teman adalah menjadi profesor.
- Ketertarikan dan pengalaman kita dalam mengajar dan berbagi ilmu.
- Minat kita yang tinggi terhadap penelitian dan juga pekerjaan lab.
- Pengalaman kita dalam penelitian dan pekerjaan.
- Nama – nama profesor yang memiliki penelitan yang menarik minat kita.
- Paper – paper dan karya tulis yang sudah kita terbitkan.

Selain itu, kita juga dapat mencuri hati profesor melalui esei dalam personal history statement. Dalam hal ini, kita bisa menceritakan latar belakang yang menjadi landasan kita untuk mengejar cita – cita menjadi profesor.

Daftar aja ke program S-3

Sebagian besar financial support berasal dari dana penelitian. Financial support tersebut diberikan kepada research assistant yang umumnya adalah mahasiswa S3. Pelamar program S3 akan lebih berpeluang mendapat financial support daripada pelamar program S2. Dengan demikian, sebaiknya kita mendaftar ke program S3. Mungkin, hal ini terdengar kurang masuk akal bagi teman – teman yang belum memegang gelar S2. Namun, jika teman – teman yang belum S2 bisa menunjukan minat dan keseriusannya dalam penelitian kepada profesor Amerika maka profesor itu akan mendukung kita supaya langsung bisa diterima di program S3. Sudah banyak teman – temanku yang langsung mengambil program S3 di Amerika, khususnya mereka yang memang mengincar financial support. Hal ini juga tidak menjadi masalah bagi teman – teman yang tetap pingin mendapatkan gelar S2. Dengan mengambil program S3, jika jumlah SKS kuliah kita di S3 memenuhi syarat program S2 maka kita bisa juga minta diberikan gelar S2.

Ceritanya akan berbeda jika teman – teman sudah memiliki financial support, baik dari beasiswa maupun uang pribadi. Jika kasusnya seperti ini, teman – teman yang belum memiliki gelar S2 lebih baik mendaftar program S2 terlebih dahulu.

Ikut-ikutan Pak/Bu dosen kita aja deh

Memiliki dosen – dosen lulusan Amerika adalah sebuah berkah. Terlebih lagi jika mereka dulu di Amerika berprestasi bagus dan profesor mereka masih aktif mengajar dan meneliti. Dengan demikian, kita bisa memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

1. Kita bisa memperkenalkan diri sebagai murid dosen kita saat mulai PDKT dengan profesor Amerika yang menjadi pembimbing dosen kita. Umumnya, profesor akan menjadi lebih welcome dan antusias dalam melayani PDKT kita.
2. Kita bisa meminta dosen kita untuk menjadi pemberi recommendation letter.

Recommendation letter ini akan menjadi lebih diperhatikan karena pengisinya adalah orang yang telah sukses lulus dari perguruan tinggi yang kita tuju.

Mengetahui kita memiliki hubungan dengan muridnya, profesor Amerika menjadi lebih yakin untuk memilih kita menjadi asistennya. Aku saranin teman – teman melamar juga ke perguruan tinggi Amerika tempat dosen kita dulu kuliah agar peluang kita memperoleh financial support semakin besar.

Tips Mendapatkan Beasiswa Pascasarjana (1)

Melanjutkan studi di luar negeri bisa ditempuh dengan dana yang minim jika kita menerima dukungan dana atau financial support. Sumbernya bisa bermacam-macam, baik dari institusi pemberi beasiswa, perguruan tinggi yang kita tuju maupun perusahaan mitra yang memberikan perhatian pada pendidikan.

Oleh karena itu, jangan berkecil hati jika menerima kata "ditolak" dari panitia seleksi beasiswa tertentu. Upayakan diterima di program studi perguruan tinggi yang Anda tuju. Kesempatan untuk mendapatkan financial support pun terbuka lebar.

Andhika Sahadewa kembali berbagi wawasan. Kali ini tentang cara memeroleh beasiswa pascasarjana di Amerika Serikat. Dalam beberapa kondisi, tips dari calon doktor jurusan Teknik Sipil bidang Geoteknik di University of Michigan, Ann Arbor juga berguna untuk studi di negara lain.



"Tips Mendapat Beasiswa Pascasarjana"

Salah satu cara agar kita bisa kuliah pasca sarjana gratis di Amerika adalah melalui bantuan keuangan (financial support) dari pihak pemberi beasiswa, seperti Fullbright, Bank ADB, tempat kerja kita, atau program beasiswa lainnya. Di Indonesia, pemberi beasiswa tampaknya menganakemaskan beberapa disiplin ilmu tertentu sehingga mahasiswa dari bidang lainnya cenderung lebih susah untuk memperoleh beasiswa tersebut. Namun, teman – teman tetap aku sarankan untuk mencoba mengikuti seleksi program beasiswa. Silahkan teman – teman kunjungi AMINEF. AMINEF merupakan badan yang mengurusi beasiswa Fullbright. Biasanya, deadline pendaftaran beasiswa Fullbright adalah pada bulan April atau Mei. Bagi teman – teman yang sudah menjadi dosen PTN maupun PTS juga dapat mencoba melamar program “Beasiswa Studi ke Luar Negeri” yang diselenggarakan oleh DIKTI. Sejak tahun 2008, DIKTI menawarkan beasiswa ini kepada dosen – dosen yang sudah diterima di perguruan tinggi maupun sedang belajar di luar negeri. Informasi lebih lanjut tentang beasiswa ini dapat dilihat di sini.

Cara sekolah gratis di Amerika yang akan dibahas secara detil di sini berkaitan dengan financial support dari pihak perguruan tinggi. Secara umum, financial support dari pihak perguruan tinggi dapat diperoleh melalui tiga kategori, yaitu fellowship, graduate research assistant, dan graduate teaching assistant. Fellowship merupakan beasiswa murni yang sangat kompetitif perebutannya. Sementara itu, graduate research assistant ataupun graduate teaching assistant merupakan jabatan dimana kita diwajibkan untuk bekerja sebagai asisten peneliti ataupun pengajar untuk mendapatkan uang saku (stipend) dari perguruan tinggi. Seluk-beluk graduate research assistant sudah pernah dibahas dalam sebuah tulisan di blog ini. Salah satu keuntungan jika kita mendapat salah satu dari financial support tersebut, kita dapat terbebas dari kewajiban membayar SPP, biaya sekolah lainnya, dan bahkan biaya asuransi kesehatan. Dengan demikian, boleh dibilang bahwa kita bisa sekolah gratis di Amerika bila mendapat financial support tersebut.

Ada beberapa status hasil lamaran jika mendaftar ke perguruan tinggi Amerika. Pertama, status hasil lamaran terbaik adalah kita diterima dan mendapat financial support. Status berikutnya adalah kita diterima tanpa financial support. Terakhir, status terburuk adalah kita tidak diterima di perguruan tinggi tersebut.

Dalam tulisan ini, aku fokus untuk menyampaikan langkah – langkah yang mesti teman – teman lakukan untuk dapat memperoleh status diterima dan mendapat financial support (Prosedur aplikasi sudah pernah dibahas sebelumnya). Status lamaran diterima tanpa financial support pun tetaplah menjadi peluang yang bagus jika teman – teman memiliki uang untuk biaya kuliah dan hidup setidaknya untuk tahun pertama. Selanjutnya, teman – teman usahakan untuk berprestasi pada semester pertama agar bisa memperoleh fellowship, posisi research assistant, ataupun jabatan teaching assistant di semester – semester selanjutnya.

Semoga teman-teman dapat financial support
Untuk bisa memperoleh financial support kita harus mau memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan uang dalam perjuangan ini. Memang butuh banyak perjuangan tapi percayalah bahwa jika sukses maka hasilnya insyaAllah akan benar – benar membuat kita bisa bersyukur kegirangan.

Maksimalkan nilai-nilai standardized test
Usahakan memperoleh nilai standardized test (TOEFL, GRE, GMAT, MCAT, DAT, LSAT, atau PCAT) yang bagus. Aku hanya akan membahas mengenai TOEFL dan GRE saja karena aku belum punya pengalaman dalam tes GMAT, MCAT, DAT, LSAT, dan PCAT. Jika kita melamar ke jurusan teknik, untuk memperbesar kesempatan memperoleh financial support sejak semester pertama, kita usahakan untuk memperoleh nilai TOEFL PBT setidaknya 600 yang ekivalen dengan nilai TOEFL IBT 100. Jika kita melamar ke sekolah bisnis/ekonomi, aku sarankan teman – teman untuk memperoleh nilai TOEFL PBT setidaknya 640 ataupun TOEFL IBT minimal 110. Sebagai informasi tambahan, teman – teman dapat memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh financial support melalui jabatan teaching assistant jika memiliki nilai speaking TOEFL IBT setidaknya 25.

Setiap jurusan dan perguruan tinggi Amerika memiliki standard prioritas berbeda– beda dalam mengevaluasi nilai GRE. Umumnya, jurusan teknik lebih memprioritaskan nilai GRE quantitative sedangkan jurusan sastra mungkin lebih memprioritaskan nilai GRE verbal dan analytical wrting. Jika kita melamar ke jurusan teknik, usahakan untuk memperoleh nilai GRE quantitative setidaknya 780 dan GRE verbal setidaknya 600.Acuan nilai TOEFL dan GRE yang aku sebutkan sebelumnya sudah termasuk SANGAT tinggi sehingga kita dengan percaya diri dapat mendaftar di perguruan tinggi top Amerika jika kita memiliki nilai tersebut.

Jalin hubungan dengan profesor
Profesor – profesor di perguruan tinggi Amerika memainkan salah satu peran penting dalam aktivitas penelitian dan perkuliahan. Setiap profesor memegang dana proyek penelitian mereka masing – masing. Umumnya, mereka bekerjasama dengan graduate student untuk mengerjakan penelitian yang ada. Profesor akan bertindak sebagai pembimbing sedangkan graduate student akan melakukan kegiatan lab dan berbagai aktivitas penelitian lainnya. Sebagai imbalan atas hasil kerjanya, graduate student yang berperan sebagai research assistant tersebut akan mendapat financial support. Selanjutnya, profesor – profesor tersebut biasanya juga membutuhkan teaching assistant untuk membantu mereka dalam kegiatan perkuliahan. Financial support juga akan diberikan pada graduate student yang menjadi teaching assistant. Dengan demikian, kita mesti menjalin hubungan dengan profesor pada masa – masa pendaftaran sekolah supaya kita dapat memperoleh financial support sejak awal kuliah. Ingat, jika kita cuek dan tidak meminta financial support pada profesor maka kecil kemungkinan kita untuk mendapatkan financial support.

Salah satu cara yang praktis dalam menjalin hubungan dengan profesor adalah dengan melalui email. Alamat email mereka bisa kita dapatkan di personal page mereka yang terdapat di website jurusan atau departement. Dalam personal page tersebut, mungkin teman – teman akan menemukan istilah Asst. Prof, Assoc. Prof, dan sebagainya. Di bawah ini adalah penjelasan tentang isitlah – istilah tersebut buat teman – teman yang masih merasa asing dengan istilah – istilah tersebut :

- Assistant Professor (Asst. Prof) adalah posisi jabatan dari perguruan tinggi untuk orang yang masih baru atau belum lama menjadi profesor (profesor muda).
- Associate Professor (Assoc. Prof) adalah posisi jabatan profesor kelas menengah, yaitu di atas Asst. Prof.
- Professor (Full Professor) merupakan posisi jabatan yang lebih dikenal dengan istilah guru besar di Indonesia.
- Emeritus Professor (Eme. Prof) adalah gelar yang diberkan oleh perguruan tinggi kepada seseorang full professor yang sudah pensiun atas jasa – jasanya bagi perguruan tinggi tersebut. Seorang pensiunan full professor yang tidak mendapatkan emeritus tidak dapat menggunakan gelar profesornya lagi.

Jangan kecil hati dulu dan takut buat kirim email ke profesor. Mereka baik – baik dan enggak sombong kok. Berikut ini adalah saran – saran dariku untuk menjalin korespondensi dengan profesor:

- Pilih profesor yang masih aktif dalam penelitian. Keaktifan mereka bisa kita lihat dari publikasi paper yang terpampang di personal page-nya.
- Jika memungkinkan, pilih profesor yang menjadi pembimbingnya dosen kita dulu waktu di Amerika. Dengan demikian, kita bisa informasikan ke profesor tersebut bahwa kita adalah murid dari mahasiswa bimbingannya dulu.
- Jika kita kirim email kepada profesor – profesor dari departemen dan perguruan tinggi yang sama, kita kirim email kepada beberapa profesor dulu. Kalau tidak dapat tanggapan maka kita bisa kirim email lagi ke beberapa profesor lainnya dari department dan perguruan tinggi tersebut.

Email pertama kita untuk mereka berisi perkenalan diri singkat dan padat. Kita dapat memberi judul atau subject “Prospective Student” untuk email tersebut. Email pertama ini bisa ditujukan ke profesor Amerika pembimbing dosen Si prospective student atau profesor yang sama sekali belum ada hubungan dengannya.

Jika email pertama kita mendapat balasan dari profesor, kita dapat memulai untuk berdiskusi dengannya dalam email selanjutnya. Topik diskusi dapat kita ambil dari publikasi paper-nya. Dalam email tersebut, kita dapat memulai menggunakan nama belakangnya saja dalam salam pembuka. Hal ini ditujukan untuk menghindari kekakuan dan menambah kedekatan kita dengan profesor. Selanjutnya, jalin korespondensi terus dan jangan sampai balas – balasan email tersebut diputuskan atau disudahi oleh profesor. Kita dapat membuat balas – balasan terus terjadi dengan membuat diskusi yang menarik.

Jika topik diskusi dari satu paper sudah habis maka kita bisa mencari topik diskusi dari paper-nya yang lain. Kalau profesor bertanya kepada kita dalam email balasannya maka segera mungkin kita balas. Namun, jika tidak ada pertanyaan dalam email balasannya maka kita bisa memberi jeda beberapa hari untuk menulis email selanjutnya.

Setelah beberapa kali balas – balasan email dan kita merasa cocok serta ada peluang untuk menyatakan cinta eh salah…maksudku jika kita sudah merasa ada peluang untuk bisa bekerja di bawah bimbingannya maka segera kita nyatakan saja perasaan kita pada profesor tersebut. Kita dapat mengacu pada Email Penembakan untuk menyatakan perasaan kita. Email ini dapat diberi judul “Research Assistant Possibility”. Jangan lupa sertakan CV dan statement of purpose kita dalam email ini.

Umumnya, profesor – profesor juga akan mengajak kita interview melalui telpon ataupun video call. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan besar financial support insyaAllah akan kita dapatkan. Misi utama kita dalam interview tersebut adalah supaya semuanya berjalan lancar dan mulus, dan teman – teman dapat financial support. Berikut ini aku tuliskan beberapa saran untuk menghadapi interview tersebut:

1. Buat catatan ringkas tentang riset profesor, minat riset kita, alasan kita menyukai riset profesor tersebut, alasan kita memilih perguruan tinggi tersebut, dan kuliah yang sudah kita ambil.
2. Kita mesti percaya diri tapi jangan sombong. Jangan malu dan tegang.
3. “You and me” kita selevel dengan profesor. Namun, tetap ingat untuk sopan. Panggil beliau dengan “Doktor” + nama belakangnya supaya tidak kaku.
4. Pada saat bicara dengan profesor, yakinkan teman – teman sudah pasti akan ke perguruan tingginnya kalau diterima. Katakan “I really want to work with you” “I find your work very interesting and I look forward to doing research in (topik risetnya)”.
5. Jika kita ditanya apakah masih mempertimbangkan/menginginkan profesor, riset, dan perguruan tinggi lain, jawabannya adalah “NO”.
6. Hindari “kondisi hening” atau tanpa kata dalam interview. Jika kita kehabisan pertanyaan dan bingung kita dapat menanyakan kepada profesor hal – hal umum tentang riset atau research assistantship, misalnya kita tanya tanggal mulai riset, sponsor riset, partner kolaborasi dalam riset, dan jangan tanya durasi riset.
7. Jangan pernah berbicara apapun yang berbau negatif, misalnya tentang Indonesia ataupun sistem kuliah kita.
8. Jangan mengatakan bahwa kita mau bekerja di Amerika setelah selesai kuliah. Namun, katakan bahwa kita ingin kembali ke Indonesia untuk berkarir di bidang akademik.
9. Jangan minta keputusan dari profesor apakah kita diterima atau tidak.
10. Kalau sudah akhir – akhir interview katakan “Please let me know if there is anything else you need from me“
11. Kalau sudah selesai interview katakan “Thank you very much for this opportunity“.


sumber

Saturday, April 27, 2013

Cara Memilih Universitas Yang Tepat di AS

Calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri biasanya masih minim informasi untuk memilih perguruan tinggi yang tepat. Namun, berbahagialah jika Anda sudah mengetahui jurusan atau program studi yang diinginkan.

Dengan demikian, pekerjaan untuk menemukan sekolah atau perguruan tinggi yang tepat akan lebih mudah dilakukan, menurut Jurist Tan. Oleh karena itu, perempuan yang meraih gelar sarjananya dalam bidang Etika, Politik, dan Ekonomi dari Yale College pada tahun 2009 ini menekankan agar calon pelajar yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh program studi yang ingin didalami.

Melalui Indonesia Mengglobal, Jurist berbagi tips mengenai cara memilih sekolah yang tepat untuk kuliah di negeri "Paman Sam".


"Which Schools? Choosing The Right Schools to Apply to in The US"


Banyak sekali sekolah yang bagus di AS. Jika Anda sudah mempersempit pilihan, kualitas pendidikannya harus menjadi kriteria yang terutama. Jika tak mengetahui ukuran pasti mengenai kualitas pendidikan suatu institusi pendidikan, Anda bisa mengetahuinya melalui pemeringkatan institusi pendidikan, dalam hal ini, perguruan tinggi, dari berbagai versi. Setiap pemeringkatan memiliki metodologi yang berbeda, jadi pikirkan bahwa pemeringkatan kualitasnya juga berbeda-beda. Pemeringkatan apa yang kira-kira bisa dipercaya?

Di AS, pemeringkatan nasional untuk perguruan tinggi yang dipercaya adalah US News. Sementara itu, pemeringkatan secara internasional bisa dilihat melalui:
1.  The Times Higher Education
2. Academic Rankings of World Universities by Shanghai Jiao Tong University
3. Newsweek and the Daily Beast

Bagaimana cara menggunakannya?
- Pertama-tama, jangan terlalu serius menanggapi pemeringkatan ini. Ini hanya memberikan pandangan umum mengenai keunggulan akademis setiap perguruan tinggi, namun jangan berpikir bahwa itu menjadi standar mutlak semua orang. Pikirkan bahwa perguruan tinggi di rangking ketiga bisa jadi tak berbeda dengan yang berada di rangking lima atau perguruan tinggi di peringkat 10 memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada yang berada di rangking 20. Hal penting yang perlu diingat adalah menjadikan pemeringkatan ini hanya sebagai panduan tambahan karena Anda akan menemukan nama-nama sekolah yang tak pernah Anda dengar sebelumnya sehingga memungkinkan Anda untuk mencari informasi mengenainya.

- Kami menyarankan untuk mengecek lebih banyak pemeringkatan, tidak cuma satu. Bahkan US News pun juga memiliki beberapa kekurangan di metodologinya.

- Jika memungkinkan, lihatlah pemeringkatan yang berbicara secara spesisifik mengenai program studi atau jurusan yang diinginkan. Kualitas program studi atau jurusan studi lebih penting daripada kualitas perguruan tinggi secara keseluruhan. Jika ingin mengambil jurusan teknik, perhatikan perguruan tinggi yang memiliki reputasi baik dalam bidang teknik, seperti MIT atau Stanford. Sekolah seni liberal terbaik seperti Harvard bukanlah pilihan yang tepat dalam kasus ini. Misalnya pula, Harvard pada tahun 2008 berada pada peringkat pertama dan Georgia Tech di peringkat 35, namun jurusan teknik di Harvard berada di posisi 33 sementara teknik di Georgia Tech ada di peringkat 5. Jangan ragu karena beberapa perguruan tinggi di luar 10 besar juga bisa memiliki program studi yang sangat bagus dalam bidang-bidang tertentu. Contoh lainnya, University of Texas di Austin berada di rangking 47 secara keseluruhan, namun memiliki kualitas pendidikan nomor satu dalam program Akuntansi dan Bisnis.

- Jika pemeringkatan program S-1 di bidang studi yang Anda inginkan tidak tersedia, cobalah untuk melihat peringkat program pascasarjananya. Kualitas program pascasarjana dan sarjana dalam departemen yang sama tidak akan jauh berbeda. Pasalnya, kedua program tersebut berada di fakultas yang sama. Contohnya, Anda tidak akan menemukan peringkat program S-1 bidang Biologi di AS. Kamu bisa memantau pemeringkatan program pascasarjananya sebagai referensi.

Perlu melamar ke berapa sekolah?
Tak ada jawaban benar dan salah untuk pertanyaan ini. Jawaban bijaksananya adalah ajukan ke sembilan sekolah: tiga sekolah ke sekolah yang Anda yakini bakal bisa masuk ("safety" schools), tiga sekolah yang Anda pikir Anda bisa masuk ke sana, dan tiga pilihan utama atau perguruan tinggi impian (sekolah yang memang Anda impi-impikan). Untuk wajarnya, 15 pilihan bisa ditentukan pula.

Hal paling penting bukanlah jumlah perguruan tingginya, namun perguruan tinggi yang mana. Waspadalah dengan kapasitas pribadi Anda, bermimpilah namun sesuaikan seakurat mungkin dengan kemampuan terbaik Anda.

Seperti kata Asher's Graduate School Admission Essays, "Ini mungkin adalah naluri manusia untuk menempatkan pilihan sekolah terbaik di daftar Anda, namun siswa yang cerdas tidak akan terkungkung hanya di satu pilihan sekolah atau program studi. Miliki pilihan yang lebih luas, buatlah aplikasi yang terbaik untuk setiap sekolah dalam daftar Anda, dan biarkan prosesnya berjalan."

Pada akhirnya, pahami bahwa ditolak bukanlah kiamat. Sekolah atau perguruan tinggi adalah tempat untuk belajar, bukan segalanya. Berada di perguruan tinggi di peringkat 20 tidak berarti hidup Anda lebih buruk daripada sekolah di perguruan tinggi rangking 3. Hal terpentingnya adalah motivasi Anda untuk belajar. Jika Anda memiliki motivasi, ke sekolah mana pun Anda masuk, Anda tetap menemukan kesempatan yang baik.


Sunday, April 21, 2013

Cara Menentukan Jurusan Studi di AS

Kenali budaya pendidikan di negara tujuan, bahkan universitas tujuan, jika berniat untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Jika di Indonesia, saat mendaftar, universitas mengharuskan Anda untuk menentukan jurusan terlebih dulu, di Amerika Serikat, sebagian besar perguruan tinggi tidak mengharuskan Anda mendaftarkan diri untuk jurusan tertentu.

Melalui Indonesia Mengglobal, Kevin Soedyatmiko berbagi pengetahuan tentang model memilih dan menentukan jurusan studi di Amerika Serikat. Meski dirinya unggul dalam bidang fisika, dengan informasi yang cukup, Kevin akhirnya yakin memilih jurusan Management Science and Economics di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Kevin juga menyoroti banyaknya siswa SMA yang kurang memiliki pemikiran dan pertimbangan matang dalam memilih jurusan yang akan mereka tekuni ke depannya. OIeh karena itu, rajin-rajinlah menambah wawasan jika ingin melanjutkan pendidikan tinggi, S-1 bahkan sampai S-3, baik di dalam negeri maupun luar negeri.



"Memilih Jurusan di Amerika"
Bagi seorang siswa kelas 3 SMA, memilih jurusan atau fakultas sangat dilematis bak menentukan jalan hidup. Ada banyak pertimbangan tentunya dalam menentukan pilihan ini. Ada yang mengatakan “jurusan harus sesuai dengan hatimu”.  Yang lain mengatakan, “pilih jurusan yang menghasilkan uang”. Apapun rumusan yang ada di dalam pikiran seorang pra-mahasiswa, ada satu masalah yang amat penting. Pada umumnya, pra-mahasiswa ini tidak mempunyai cukup informasi untuk menentukan jurusan atau fakultas tersebut.  Di tulisan ini saya akan menjelaskan bagaimana proses aplikasi dan pendidikan di Amerika Serikat memungkinkan dan mengakomodasi mahasiswa untuk memilih jurusannya seinformed mungkin.

Perbedaan pemilihan jurusan di Amerika Serikat dan di Indonesia
Penerimaan mahasiswa di Indonesia, bukan hanya dibagi berdasarkan universitas, tetapi juga fakultas di universitas tertentu. Katakanlah ada mahasiswa bernama Anto, yang suka dan berprestasi Fisika di SMA. Namun, karena ketatnya persaingan, Anto hanya mendapatkan tempat di elektro ITB. Pertanyaannya, setelah diterima di jurusan elektro di ITB, apakah Anto bisa mengganti jurusan menjadi fisika di ITB? Apa yang harus dia lakukan jika ternyata setelah berkuliah 1 semester, dia merasa bahwa elektro bukan bagiannya?

Penerimaan mahasiswa di Amerika, terutama di level undergraduate, cenderung tidak mempedulikan jurusan. Satu – satunya pertanyaan essay admission yang berbau jurusan, adalah “seandainya kamu diterima, kamu mau ambil jurusan apa?”. Akan tetapi jawaban saya untuk pertanyaan ini tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap jurusan apa yang harus saya ambil di MIT. Sekedar info, waktu itu saya jawab EECS (Electrical Engineering and Computer Science), salah satu jurusan paling populer di MIT.

Jadi, dalam proses ini, jika saya diterima di MIT, maka saya diterima di semua jurusan di MIT. Ya, semua jurusan, termasuk di antaranya elektro, fisika, bahkan ekonomi. Pertanyaan berikutnya adalah “apa seorang siswa yang diterima berdasarkan prestasi Fisikanya yang luar biasa di masa SMA, bisa belajar ekonomi atau mata ajaran lainnya yang asing buat dia?”

Salah satu alasan kuat yang mampu mendukung sistem penerimaan mahasiswa di sini, adalah di MIT (dan kebanyakan universitas Amerika lainnya) kurikulum sangat ditekankan dengan intuisi di belakang materi yang diajarkan. Di setiap kelas, terutama kelas tingkat 2 ke atas, siswa di tantang untuk berpikir “apa yang ada di dalam pikiran ilmuwan X saat menemukan rumusan Y”, bukan hanya “bagaimana rumusan Y dipakai untuk menyelesaikan masalah”. Mungkin ini terdengar abstrak, tetapi saya sendiri telah mengalaminya.

Di tahun kedua saya di MIT, saya memilih Management dan Economics sebagi jurusan saya. Awalnya saya berpikir akan sangat sulit bagi saya untuk belajar ekonomi atau finance, sesuatu yang asing buat saya selama ini. Akan tetapi, setelah saya mencoba, ternyata banyak sekali intuisi yang dipakai para ahli Ekonomi yang juga dipakai para Fisikawan. Ada suatu jalan pemikiran yang logis, yang ternyata, berlaku (bisa diaplikasikan) untuk hampir semua bidang yang ada.

Keuntungan sistem penerimaan dan penjurusan di Amerika Serikat
Ada tiga hal yang menurut saya membuat kebanyakan murid SMA kekurangan ‘informasi’ untuk dapat menentukan jurusan dengan bijak dan tepat.

1. Pengaruh LingkunganBanyak siswa yang memilih jurusan karena terpengaruh oleh lingkungan. Lingkungan di sini termasuk teman seangkatan, guru, ataupun orang tua. Saya sendiri, berkecimpung hampir 2 tahun di Tim Olimpiade Fisika Indonesia, menjadi terpengaruh untuk mengambil jurusan berbau sains atau engineering. Saya sewaktu itu sangat bingung akan apa yang sebenarnya saya sukai.

2. WawasanAnak SMA di Indonesia, pada umumnya, tidak terlalu terekspose terhadap dunia luar. Berapa banyak anak SMA yang memiliki gambaran apa sih yang dikerjakan para teknisi di perusahaan seperti Google, Microsoft, atau Facebook ? Atau juga, seperti apa sih kuliah grad school ? Atau juga, berapa banyak anak SMA yang pernah mendengar kata – kata Management Consulting atau Hedge Fund ? Tanpa wawasan yang luas, akan sangat sulit untuk menentukan suatu jurusan yang erat kaitannya dengan apa yang akan dilakukan 5 – 10 tahun mendatang. Dengan berkuliah setahun di MIT, saya mendapatkan wawasan yang jauh lebih banyak dibandingkan sewaktu saya lulus dari SMA.

3. KedewasaanYang terakhir ini, tak dapat dipungkiri, bahwa kedewasaan seseorang bertambah seiringinya bertambahnya umur. Setahun setelah berkuliah di MIT, saya merasa jauh lebih dewasa dibandingkan sewaktu saya lulus dari SMA. Ini membuat saya lebih siap dalam menentukan jurusan yang saya pilih.


Karena alasan-alasan ini, sistem Amerika Serikat yang memberikan kesempatan siswa untuk mencoba dan belajar tentang banyak bidang sebelum menentukan memungkinkan mahasiswa menentukan jalan hidupnya dengan informasi yang akurat. Proses ini juga dijalankan di antara lingkungan yang kondusif, di antara murid-murid dan profesor-profesor yang tidak mendesak murid untuk terburu-buru menentukan pilihannya.

Disclaimer: walaupun kebanyakan universitas S1 di Amerika Serikat menganut filosofi ini, ada beberapa universitas yang mengharuskan siswa mendaftar ke jurusan tertentu. Misalnya, pendaftaran Carnegie Mellon ditujukan ke fakultas (misal: School of Computer Science). Pendaftaran transfer dari community college ke universitas juga umumnya per fakultas.

Saturday, April 20, 2013

Banyak Jalan Menuju Harvard

Kuliah di Harvard, Lewat Jalur Biasa atau Beasiswa?” Ini salah satu pertanyaan yang diterima Donny Eryastha saat dirinya diterima di program Master of Public Administration di Kennedy School of Government, Harvard University. Lelaki yang menerima gelar sarjananya di Universitas Indonesia ini mengaku heran dengan pertanyaan tersebut.

Pasalnya, banyak orang begitu mengagung-agungkan beasiswa untuk mewujudkan impiannya bersekolah dihttp://www.acehscholarships.com/2013/04/banyak-jalan-menuju-harvard.html luar negeri. Padahal, banyak cara untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri dengan biaya yang minim pula.

Donny tidak memungkiri bahwa biaya pendidikan di luar negeri itu mahal sekali. Namun, melalui Indonesia Mengglobal, dia berpesan agar Anda yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri tak harus berhenti berusaha hanya karena gagal meraih beasiswa tertentu.

Jadi, jangan khawatir. Masih banyak jalan menuju Harvard, juga ke universitas lainnya di luar negeri. Simak informasi dan tips berikut ini dari Donny.

-----

"Tentang Beasiswa: Bagaimana Cara Membiayai Kuliah di Luar Negeri?"
    “Kamu kuliah di Harvard jalur biasa atau jalur beasiswa?”
    “Dapat beasiswa dari mana, kok bisa kuliah di Harvard?”

Itu adalah beberapa contoh pertanyaan pertama yang sering orang sampaikan ke saya begitu mereka tahu saya pernah kuliah di Harvard. Semua pertanyaan sah-sah saja, tapi yang saya heran, kenapa pertanyaan-pertanyaan pertama selalu tentang beasiswa? Bukannya kalau kagum atau heran saya kuliah di Harvard harusnya yang ditanyakan adalah bagaimana caranya bisa diterima? Toh kalaupun sesorang dapat beasiswa belum tentu dia bisa diterima di Harvard. Di sebagian besar sekolah yang baik, seleksi penerimaan mahasiswa terpisah dengan seleksi untuk beasiswa. Tidak ada hubungannya kemampuan membayar seseorang dengan diterima atau tidaknya di sekolah.

Lebih umum lagi, saya juga melihat perhatian yang membabi buta pada beasiswa. Ada banyak mailing list beasiswa, website beasiswa, Twitter beasiswa dan sejenisnya, tapi sedikit sekali tempat berdiskusi tentang kualitas sekolah dan bagaimana cara diterima di sekolah yang baik.

Saya mengerti sekolah di luar negeri itu mahal sekali. Kalau kita membandingkan pendapatan per kapita orang Indonesia dengan biaya kuliah di luar negeri, sepertinya kuliah di luar negeri itu tidak mungkin dibiayai sendiri. Jadi harus dapat beasiswa. Maka wajarlah muncul pertanyaan-pertanyaan seperti tadi. Yang ingin saya luruskan melalui tulisan ini adalah kesalahan menaruh perhatian membabi buta terhadap beasiswa sehingga melupakan hal lain yang lebih penting. Saya juga ingin menjelaskan bahwa membiayai kuliah di luar negeri itu mungkin sekali, dan ada banyak caranya.

Berikut adalah dua prinsip yang harus selalu dipegang:

1. Fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa.


 Prinsip utama dalam merencanakan sekolah di luar negeri adalah fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa. Saya ulangi lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA. Saya ulangi sekali lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA.

Saya sering tercengang bagaimana banyak sekali orang bisa lupa bahwa dalam proses persiapan sekolah di luar negeri, tujuan utama seharusnya adalah dapat bersekolah di sekolah yang sebaik mungkin. Beasiswa hanyalah salah satu alat yang memungkinkan kita sekolah.

Saya umpamakan orang yang merencanakan sekolah ke luar negeri dengan seorang pria yang mencari istri. Saya umpamakan juga proses mendapatkan beasiswa dengan proses membeli mobil untuk menarik perhatian si calon istri. Fokus utama si pria seharusnya adalah memilih wanita yang akan dijadikan istri dan mengusahakan agar lamarannya diterima wanita tersebut, BUKAN membeli mobil agar dapat menarik perhatian wanita. Membeli mobil hanyalah suatu alat untuk menarik perhatian wanita, dan itu bukan satu-satunya alat. Memiliki mobil pun bukan jaminan lamaran si pria diterima wanita tersebut.

Fokus untuk mendapatkan beasiswa bisa berbahaya, karena:
a. Fokus pada beasiswa bisa membuat pelamar mengkompromikan kualitas pendidikan.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil MBA di Amerika Serikat. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa. Riset yang dia lakukan adalah mencari tahu beasiswa apa yang tersedia untuk program MBA di Amerika. Dari Google dia mendapat berbagai informasi.

Singkat kata si pelamar ini akhirnya berkuliah di Executive MBA Program Walden University. Padahal, universitas ini termasuk abal-abal. Padahal  (lagi), program-program MBA terbaik di Amerika juga memberikan beasiswa, cuma dia tidak tahu saja, karena dia terlalu fokus mencari beasiswa, bukan mencari tahu program-program mana saja yang terbaik baru kemudian mencari tahu cara membiayai kuliah di sana.

Contoh lain, beberapa beasiswa membatasi sekolah yang boleh dilamar, sesuai dengan anggaran beasiswa. Di Amerika Serikat misalnya, banyak sekali universitas swasta yang sangat baik (misalnya universitas-universitas Ivy League) yang biaya kuliahnya lebih mahal daripada universitas negeri. Betapa sedihnya saat seorang penerima beasiswa terpaksa memilih sekolah yang lebih buruk kualitasnya karena himbauan atau bahkan larangan si pemberi beasiswa.

b. Periode aplikasi sebagian beasiswa tidak cocok dengan periode aplikasi sekolah.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil master di bidang ekonomi di Inggris di tahun 2013. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa dulu baru melamar ke sekolah. Beasiswa yang paling umum untuk orang Indonesia adalah Chevening. Aplikasi Chevening untuk tahun 2013 dibuka dari Oktober sampai Desember 2012. Penerima beasiswa diumumkan pada bulan Maret 2013.

Sementara itu, sebagian besar universitas di Inggris memberlakukan sistem rolling admission, artinya aplikasi yang masuk akan langsung diproses dan hasilnya diumumkan segera. Tidak ada batas waktu aplikasi; aplikasi diterima dan diproses sampai seluruh kursi terisi. Semakin lama, kursi yang terisi semakin banyak. Untuk kuliah tahun 2013, kebanyakan universitas mulai menerima aplikasi bulan September 2012. Pada bulan Januari 2013, sebagian besar kursi di sekolah-sekolah terbaik (seperti Oxford, Cambridge, dan London School of Economics) sudah terisi. Jika si pelamar menunggu sampai Chevening mengumumkan hasil beasiswa, baru melamar sekolah, katakanlah paling cepat di bulan April 2013, hampir dapat dipastikan dia tidak akan diterima di sekolah-sekolah terbaik. Bukan karena aplikasinya tidak berkualitas, tapi karena semua kursi sudah terisi. Dia terlambat memasukkan aplikasi.

Katakanlah si pelamar juga tidak bermaksud melamar ke sekolah-sekolah terbaik. Pertama, Chevening mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun setelah lulus S1, sedangkan universitas sendiri tidak mensyaratkan hal ini. Kedua, seandainya si pelamar tidak mendapat beasiswa Chevening dan dia tidak jadi melamar ke sekolah karena itu, dia harus membuang waktu minimal satu tahun lagi sampai periode aplikasi beasiswa selanjutnya. Tidak ada jaminan juga tahun depannya dia akan mendapat beasiswa Chevening. Sampai berapa tahun dia harus menunggu sampai bisa mewujudkan mimpinya sekolah di Inggris? Padahal, kalau saja dia langsung  melamar ke beberapa sekolah di Inggris (tanpa menunggu dia dapat beasiswa Chevening atau tidak) kemungkinan besar dia diterima sekolah (karena dia melamar ke beberapa sekolah).

c. Beasiswa mensyaratkan ketentuan yang mungkin tidak sejalan dengan ketentuan sekolah dan minat pelamar.
Lembaga pemberi beasiswa selalu punya misi, misalnya ingin memberdayakan kelompok masyarakat tertentu. Maka wajar jika mereka lebih memprioritaskan, atau bahkan memberi kuota khusus, untuk kelompok tertentu, misalnya wanita, pegawai negeri, orang yang berasal dari Indonesia Timur, atau korban tsunami. Mereka juga memprioritaskan atau hanya memberikan beasiswa untuk bidang tertentu, misalnya studi gender, studi hak azazi manusia, pertanian, atau tata kelola sumber daya air. Tentu itu haknya si pemberi beasiswa mensyaratkan macam-macam.

Tapi bagaimana kalau profil si pelamar dan minatnya tidak cocok dengan ketentuan beasiswa? Ambil contoh seorang pria pegawai bank swasta, asal Jakarta, yang ingin mengambil MBA. Akan sulit baginya mencari beasiswa yang cocok. Apakah dia harus mengubah bidang studi pilihannya demi memperbesar kemungkinan mendapat beasiswa? Atau dia harus menunggu sampai ada beasiswa yang mensyaratkan profil yang cocok?

2. Ada banyak sekali cara untuk membiayai sekolah, bukan hanya beasiswa.
 Jadi kalau tidak dengan beasiswa, bagaimana caranya membiayai kuliah di luar negeri? Pertama, saya tidak pernah mengatakan ‘jangan cari beasiswa’. Beasiswa tetap merupakan salah satu sumber pembiayaan kuliah di luar negeri; yang saya katakan adalah fokuslah untuk dapat diterima di sekolah yang baik, dan usahakanlah berbagai sumber pembiayaan, termasuk dengan melamar secara strategis ke beberapa beasiswa.

Mari kita rinci berbagai alternatif pembiayaan untuk kuliah di luar negeri:

1. Beasiswa dari sekolah
 
Ambil contoh seorang yang ingin kuliah di Columbia University Graduate School of Journalism, Amerika Serikat, salah satu sekolah jurnalistik terbaik di dunia. Saya sama sekali tidak familiar dengan sekolah ini, tapi mampir sebentar saja di website sekolah ini, saya temukan daftar sekitar 100 jenis beasiswa yang ditawarkan sekolah sendiri untuk mahasiswanya.

Beasiswa ini biasanya dikelola langsung oleh sekolah, proses aplikasinya bersamaan dengan proses aplikasi sekolah, dan proses seleksinya dilakukan sendiri oleh sekolah (terpisah dari seleksi penerimaan mahasiswa). Kemungkinan besar, dari 100 beasiswa ini ada beberapa yang cocok dengan profil si pelamar. Yang paling penting adalah si pelamar harus diterima dulu di sekolah tersebut, sehingga dia bisa eligible untuk berbagai beasiswa tersebut.

2. Beasiswa dari luar sekolah

a. Beasiswa dari badan eksternal
Melanjutkan contoh kita, misalkan si pelamar mencari beasiswa lain yang disediakan pihak luar sekolah yang bisa dilamar calon mahasiswa jurnalistik dari Indonesia. Sebentar saja riset di internet, dia menemukan banyak beasiswa yang bisa dia lamar, seperti beasiswa Fulbright, Ford Foundation, USAID, Foreign Press Association, International Center for Journalists, dan lain-lain.

b. Beasiswa dari tempat kerja
Si pelamar pun bisa bernegosiasi ke tempatnya bekerja apakah mungkin ia disponsori untuk kuliah di luar negeri, baik berupa pembayaran uang kuliah, pembayaran seluruh atau sebagian gajinya saat dia sekolah, dan lain-lain.

3. Kerja paruh waktu

Kalau si pelamar diterima sekolah, saat dia mulai sekolah pun banyak cara membiayai kuliahnya, termasuk dengan bekerja paruh waktu. Dia bisa bekerja di sekolahnya sendiri misalnya sebagai teaching fellow, teaching assistant, researcher, assistant librarian, dan support assistant, Dia juga bisa bekerja di luar kampus misalnya sebagai penulis, penerjemah, tutor, researcher, bahkan profesi-profesi blue collar seperti pelayan, penjaga toko, pencuci piring.

4. Tabungan

Tentu saja si pelamar bisa membiayai sebagian biaya kuliahnya menggunakan tabungan pribadinya atau keluarganya.

5. Pinjaman (student loan)

Pelamar pun bisa mengambil pinjaman (student loan) yang periode cicilannya biasanya baru dimulai saat si peminjam sudah lulus dan bekerja, dan baru diharapkan lunas 10-20 tahun kemudian. Tidak semua orang yang kuliah di luar negeri tanpa beasiswa itu kaya raya. Mahasiswa asal Cina, India, dan Amerika Serikat sendiri berani mengambil pinjaman karena mereka tahu penghasilan mereka setelah lulus akan bisa meningkat signifikan. Anehnya, banyak calon mahasiswa Indonesia yang hanya berani menunggu beasiswa, entah sampai kapan, untuk mau kuliah. Padahal, orang-orang yang sama ini berani mengambil pinjaman untuk membeli harta seperti rumah atau mobil yang tidak akan meningkatkan potensi pendapatan mereka.

6. Donatur individu

Si pelamar pun bisa mendekati donatur individu yang potensial, misalnya alumni asal Indonesia dari sekolah yang ia tuju. Ia pun bisa melakukan kampanye pengumpulan sumbangan dari masyarakat luas. Saya sudah beberapa kali menyaksikan orang-orang yang mengumpulkan sumbangan agar bisa kuliah. Mereka sukses membiayai sekolahnya, dan setiap semester mereka memberikan laporan dan ucapan terima kasih bagi para donatur. Masih sangat sedikit orang Indonesia yang diterima di universitas-universitas terbaik dunia; jadi kalau anda sampai diterima, yakinlah, orang-orang akan bangga dan senang membantu anda.

-----

Jadi, ada banyak, banyak sekali cara untuk membiayai kuliah di luar negeri, tinggal tergantung usaha kita. Merefleksikan pengalaman pribadi, pada bulan Maret tahun 2010, saya berada di situasi di mana Saya diterima di enam universitas: Harvard, Columbia, Cornell, Chicago, New York University, dan London School of Economics, tapi belum mendapat satupun beasiswa. Sampai saat itu saya sudah melamar ke paling tidak 11 beasiswa: enam beasiswa internal Harvard Kennedy School, ditambah beasiwa eksternal seperti Fulbright (dua kali), Sampoerna Foundation (dua kali), Joint Japan-World Bank, dan lain-lain, saya sudah lupa apa lagi.

Saya tidak mendapat satu pun beasiswa ini. Selain itu, Saya pun sudah mendekati berbagai yayasan, walaupun Saya tahu mereka tidak menawarkan beasiswa. Akhirnya Saya mendapat beasiswa dari Rajawali Foundation. Saya tidak melamar ke beasiswa ini; Saya bahkan tidak tahu bahwa beasiswa ini ada. Harvard langsung mengalokasikan beasiswa ini begitu Saya diterima. Beruntung? Mungkin saja, tapi Saya lebih melihatnya sebagai hasil yang sesuai dengan usaha dan strategi yang optimal. Kalau Saya tidak meneruskan melamar sekolah saat ditolak beasiswa, mungkin sampai sekarang Saya belum sekolah.

Mencari sumber pembiayaan sekolah memang repot: menyita energi, waktu, dan pikiran. Tapi seperti yang dijelaskan di atas, caranya banyak. Apakah kita bisa mengatakan dengan jujur bahwa usaha kita untuk bisa kuliah di luar negeri sudah optimal? Anda harus luar biasa sial kalau tidak mendapat hasil sama sekali walau sudah mengusahakan semua cara yang dijelaskan di atas. Kalau masalahnya adalah ‘malas’,  Saya tidak ada komentar :)

Sumber : Kompas.com

Sunday, April 7, 2013

Empat Hal yang Harus Diperhatikan Saat UN

Ternyata kegagalan dalam Ujian Nasional (UN) tidak hanya disebabkan pada ketidaksiapan siswa terhadap materi saja. Sebab, banyak siswa yang cerdas dan sebenarnya memperoleh nilai tinggi di UN harus menghadapi kenyataan pahit karena Lembar Jawaban Komputer (LJK) miliknya tak terpindai.a

http://www.acehscholarships.com/2013/04/Empat-Hal-yang-Harus-Diperhatikan-Saat-UN.htmlPemerhati Pendidikan Saufi Sauniwati mengatakan bahwa hal ini terjadi berulang kali di tiap penyelenggaraan
UN. Beberapa hal yang membuat LJK akhirnya tidak terpindai saat dilakukan koreksi jawaban adalah cara penghitaman yang salah, mencorat-coret LJK, tidak teliti saat mengisi LJK dan tidak mengisi LJK dengan pensil 2B.

"Saya sempat ikut mengoreksi saat di Cimahi dan itu banyak kejadian seperti itu. Jadi siswa juga diminta disiplin karena yang namanya teknis ini sangat menunjang," kata Saufi di Jakarta beberapa saat lalu.

Pertama, jangan pernah mencoba menggunakan alat tulis selain pensil 2B. Sebab, dalam POS Ujian Nasional (UN) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan wajib menggunakan pensil 2B agar dapat terpindai dengan baik.

"Ada yang waktu itu memakai spidol hitam. Ya jelas tidak bisa terbaca oleh mesin. Jadi guru atau pengawas juga harus awasi peserta UN untuk ini," ujar Saufi.

Kedua adalah cara penghitaman LJK. Sebenarnya, cara penghitaman ini sudah berulang kali dijelaskan. Namun, berulang kali pula, banyak siswa yang masih salah sehingga jawaban tak terbaca.
Yang pasti bulatan harus dihitamkan penuh dan tepat. Sebaiknya juga hindari hanya memberi centang pada LJK dan akan dihitamkan nanti karena dikhawatirkan waktunya tidak cukup.

Ketiga adalah hindari mencorat-coret LJK di bagian yang tidak diminta karena akan mengakibatkan LJK tak terpindai. Salah satunya adalah tanda hitam dipinggir LJK yang merupakan penanda sebaiknya jangan dicorat-coret.
Kemudian jika diminta membubuhkan tanda tangan, maka lebih baik tetap gunakan pensil dan jangan di luar kotak. "Pernah kejadian, anak ini dapat nilai tinggi saat dikoreksi manual tapi saat dipindai tidak terbaca. Karena tanda hitam yang dipinggir LJK itu diwarnai dan ada juga yang malah buat gambar di LJK," ujar Saufi.

Selanjutnya, teliti dalam mengisi LJK. Seringkali siswa lupa menghapus jawaban yang salah sehingga jawaban pada suatu nomor menjadi dobel. Hal ini termasuk saat mengisikan nama dan identitas di LJK. Perbedaan nama atau identitas juga mengakibatkan LJK tak terbaca.
"Misalkan begini, namanya Christian Hadinata. Pada hari pertama dia tulis lengkap. Kemudian hari kedua hanya ditulis C. Hadinata dan hari ketiga Christian. H. Itu tidak akan bisa terakumulasi nilainya sehingga merugikan," jelasnya.
"Jadi jangan iseng dan disiplin dalam teknis pengerjaannya juga sangat penting," tandasnya. 

Sumber: Kompas.com

Sunday, March 31, 2013

4 Strategi Sukses Hadapi UN 2013

Menjelang Ujian Nasional (UN) 2013, siswa tahun akhir di berbagai jenjang terus mempersiapkan diri agar dapat menaklukkan berbagai soal yang diujikan sehingga dapat lulus dan tidak perlu mengulang. Namun, tanpa strategi persiapan yang tepat, hasilnya tentu tidak akan optimal pada saat ujian.

Pemerhati Pendidikan, Saufi Sauniwati, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh
http://www.acehscholarships.com/2013/03/4-strategi-sukses-hadapi-un-2013.html
KOMPAS IMAGES
para siswa saat tengah mempersiapkan diri. Pasalnya, terkadang anak-anak belajar dengan "menghajar" semua materi yang ada tanpa strategi yang benar sehingga justru tidak fokus pada pelaksanaannya.

"Semuanya ada strategi. Materi yang akan diujikan itu banyak sekali. Kalau belajar tanpa strategi, efeknya saat UN nanti tidak baik," kata Saufi saat Peluncuran Portal Latihan Ujian.com di FX Lifestyle Center, Jakarta, Selasa (26/3/2013).

1. Tak sekadar menghafalLangkah pertama adalah penguasaan bahan yang akan diujikan. Yang dimaksud pada penguasaan bahan ini bukan sekadar menghafal semua materi yang ada. Namun, agar lebih mudah, biasakan diri berlatih soal untuk mengaplikasikan rumus yang ada dengan tepat.

"Sekarang semuanya dihafal, tapi tidak pernah dipraktikkan. Saat harus mengaplikasikan, pasti akan ada kesulitan," jelas Saufi.

2. Rajin evaluasi diri
Langkah kedua adalah rajin melakukan evaluasi diri. Ini berkaitan dengan latihan soal yang dilakukan oleh siswa. Latihan saja tidak cukup apabila tidak dievaluasi dengan baik. Evaluasi ini tidak hanya sekadar menilai benar dan salah, tetapi juga harus dievaluasi durasi pengerjaan soalnya.

3. Istirahat juga dong...
Langkah ketiga adalah membagi waktu antara belajar dan melepaskan penat. Saat menjelang UN, anak-anak biasanya belajar tiada henti dan ikut berbagai macam try out. Hal ini akan bermasalah jika tidak ada jeda untuk meregangkan pikiran dan dapat berakibat anak mengalami stress.

4. Berdoa
Langkah terakhir tentu saja berdoa agar diberi kelancaran. Tidak heran jika banyak sekolah yang kemudian menggelar doa bersama saat menjelang UN. Dengan berdoa ini, siswa dan guru dapat memperoleh ketenangan tersendiri sebelum dan saat UN.


Saturday, March 9, 2013

4 Tips Memilih Universitas yang Tepat untuk Studi

Tempat Anda menimba ilmu akan memengaruhi sebagian besar kehidupan sosial dan profesional Anda di masa depan. Jadi, jangan salah menentukan keputusan mengenai institusi pendidikan yang tepat untuk diri Anda.

Seperti dikutip dari Telegraph, ada sejumlah petunjuk untuk membantu Anda menemukan universitas yang tepat untuk melanjutkan studi. Apa saja?

1. Kegiatan akademis dan non-akademis
http://www.acehscholarships.com/2013/03/4-tips-memilih-universitas-yang-tepat.html
Shutterstock
 
Ketika memilih universitas, ingatlah satu hal bahwa kuliah tak cuma soal kegiatan akademis. Perhatikan pengalaman mahasiswa di suatu universitas.

Seperti menemukan tempat kursus yang sesuai dengan minat Anda, pastikan apa yang Anda perhatikan sesuai dengan harapan Anda. Jika Anda tak menyukai lingkungan atau budaya akademis di tempat tersebut, maka berpikirlah ulang karena Anda akan berada di situ 3-4 tahun ke depan.

Fasilitas akademis dan non-akademis yang ditawarkan juga perlu diperhatikan. Ada universitas dengan fasilitas akomodasi, akademis, dan hiburan yang berada di satu area. Di sini, Anda akan menghabiskan waktu untuk segala kegiatan yang terkait dengan status Anda sebagai mahasiswa. Tentu saja, Anda akan "dipaksa" lebih fokus dengan tanggung jawab Anda sebagai mahasiswa.

Jika Anda merasa agak sumpek dengan lingkungan universitas tersebut, Anda bisa memilih universitas di kota yang heterogen, tidak hanya ramai karena keberadaan institusi pendidikan. Selain itu, ada pula universitas yang fokus menempatkan Anda dalam komunitas akademis yang lebih intim.

2. Jarak dari tempat tinggal

Jarak dari rumah atau tempat tinggal sering diabaikan dalam memilih sebuah universitas. Jika Anda memang masih ingin tinggal di rumah atau pulang pada akhir pekan, pilihlah universitas yang tidak menghabiskan ongkos terlalu banyak.

Alternatif jika Anda ingin berkuliah jauh dari rumah orangtua adalah tinggal di rumah saudara, di asrama universitas atau nge-kos. Ingat, biaya hidup sehari-hari di luar ongkos tentu akan lebih besar daripada tinggal di rumah orangtua. Namun, jangan khawatir, kampus-kampus selalu menyediakan beasiswa untuk meringankan beban mahasiswa yang berprestasi.

3. Durasi studi

Masukkan durasi studi sebagai pertimbangan dalam memilih universitas yang dituju. Anda mau lulus dalam tiga atau empat tahun? Itu akan membuat Anda mempersiapkan diri pula sejak awal berkuliah.

Setiap universitas juga memiliki batas maksimal durasi yang berbeda bagi mahasiswanya untuk menyelesaikan studi. Setiap jurusan juga memiliki kecenderungan durasi kelulusan yang berbeda. Pertimbangkan hal ini sejak awal memilih dengan banyak bertanya.

Banyak universitas yang menawarkan studi akselerasi. Gelar sarjana bisa diambil hanya dalam waktu 3 tahun. Bahkan, sejumlah universitas di Eropa menawarkan program S-1 untuk ditempuh selama 2 tahun saja.

Keuntungannya, Anda bisa menghemat biaya hidup selama kuliah, cepat lulus, dan berpeluang memperoleh pekerjaan terlebih dahulu. Namun, jalur ini membuat Anda kehilangan waktu untuk mengembangkan ide, ketertarikan, dan kehidupan sosial di masa-masa usia kuliah.

Anda juga bisa memilih model kuliah sambil bekerja. Biasanya, Anda akan memiliki beban yang lebih besar untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu atau menempuh waktu studi yang lebih lama. Jika Anda ingin menempuh kuliah sambil bekerja, dedikasi dan disiplin yang tinggi wajib Anda miliki.

4. Kenali dengan baik

Jangan asal universitas negeri atau jangan asal kuliah. Jika Anda memutuskan ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi, cobalah untuk melakukan riset kecil-kecilan mengenai universitas yang Anda tuju.

Jangan sekadar percaya dengan situs web perguruan tinggi tersebut atau rekomendasi-rekomendasi. Anda bisa datang langsung ke bagian konsultasi pendidikan universitas tersebut dan bertanya pada senior atau teman yang lebih dulu berkuliah di universitas tersebut.

Jika ada, Alan Jones, seorang pengembangan profesional dari UCAS, juga menyarankan para calon mahasiswa untuk menghadiri pameran pendidikan tinggi dan bertemu dengan staf universitas yang bersangkutan. Jones menegaskan, jangan malu-malu menghubungi universitas secara langsung dan mengajukan pertanyaan kepada mereka.

Sunday, March 3, 2013

3 Hal Penting Memilih Kursus Bahasa Asing


Jika ingin meraih kemampuan bahasa Inggris yang baik untuk Anda atau anak-anak, maka pilihlah tempat belajar bahasa Inggris yang baik pula. Asal-asalan memilih tentu tak akan berdampak maksimal bagi kemampuan dan penguasaannya terhadap bahasa asing.

Head of Marketing Wall Street Institute Indonesia, Grace Chandra, mengungkapkan bahwa untuk memaksimalkan hasil yang didapat, mendaftarlah di tempat kursus bahasa Inggris yang bisa mempertajam kemampuan dan mendorong penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Memilih tempat kursus yang tepat itu penting. Karena jika tidak sesuai dengan yang diharapkan maka hasilnya juga tidak akan seperti harapan." Menurut Grace, ada tiga hal penting yang patut dijadikan pertimbangan untuk memilih tempat kursus bahasa Inggris agar hasil yang diperoleh sesuai dengan keinginan. Apa saja?

1. Kualitas tempat kursus
Mutu dari sebuah tempat kursus dapat dilihat dari citra positif perusahaan yang biasanya dibicarakan dari mulut ke mulut oleh para jebolan tempat kursus ini. Selain itu, tempat kursus dengan mutu baik tentunya juga mendapat pengakuan dari berbagai pihak baik tempat bekerja atau sekolah di luar negeri.

"Citra perusahaan ini terbentuk dari persepsi masyarakat tentang brand tersebut. Sehingga dengan banyaknya testimoni positif tentunya sudah dapat diperkirakan bagaimana kualitas tempat tersebut," jelas Grace.

2. Kemudahan dan kenyamanan dalam belajar Kemudahan terkait dengan lokasi tempat kursus tersebut yaitu mudah dijangkau dari rumah atau sekolah atau tempat kerja sehingga siswa juga tidak merasa terbebani saat akan berangkat ke tempat kursus.

Sedangkan kenyamanan berkaitan dengan suasana kelas yang kondusif saat belajar. Untuk efektivitas belajar, memang lebih baik memilih tempat kursus yang menawarkan kelas kecil dengan isi empat hingga enam orang daripada kelas besar yang isinya hingga puluhan orang.

3. Pelayanan yang baik
Pelayanan terkait dengan metode pembelajaran di tempat kursus tersebut dan ketersediaan pengajar berkualitas. Apabila sasarannya untuk usia anak sekolah maka ada baiknya memilih tempat yang menawarkan metode pembelajaran interaktif dengan permainan.

Namun jika bagi yang sudah bekerja atau kuliah maka sebaiknya pilih tempat yang mampu menyesuaikan dengan jadwal harian yang padat sehingga siswa tidak merasa terikat dan fleksibel kapan saja ingin belajar. Untuk pengajar, akan lebih baik memilih tempat kursus yang menyediakan pengajar native speaker.

"Pengajar asing ini memang dijadikan patokan bagi orang saat memilih tempat kursus. Cara pengajaran juga tak kalah penting. Harus pilih yang sesuai kebutuhan."

Saturday, March 2, 2013

5 Cara 'Murah Meriah' Belajar Bahasa Asing

Di era global saat ini, kemampuan berbahasa asing menjadi sesuatu yang perlu dimiliki oleh para profesional muda. Banyak orang akhirnya menghabiskan uang mereka dengan membeli software dan buku teks untuk belajar bahasa asing dan mereka memang mencapai hasil yang menggembirakan.

Namun sebenarnya, tak perlu mahal lho untuk bisa memiliki kemampuan bahasa asing yang baik. Dengan budget yang minim, Anda bisa memperoleh alat pembelajaran bahasa asing dengan hasil maksimal pula.

http://www.acehscholarships.com/2013/03/5-cara-murah-meriah-belajar-bahasa-asing.html
Seperti ditayangkan oleh Telegraph, Anne Merritt, pengajar EFL di Korea Selatan, menyebut ada lima cara untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa asing Anda. Jika tak benar-benar gratis, maka paling tidak sangat murah. Apa saja?

1. Koran online 
Koran online berbahasa asing merupakan aset yang tak ternilai bagi siapa saja yang mau belajar. Koran selalu ter-update, berkaitan erat dengan budaya, dan dapat membantu orang-orang yang belajar dari level kemampuan mana pun.

Iklan pendek dan teks foto merupakan tantangan awal bagi para pemula, termasuk pula keterangan-keterangan gambar. Mereka yang kemampuannya sudah tergolong intermediate dapat memanfaatkan artikel-artikel berita. Sementara itu, para pembelajar kelas advance bisa membaca kolom dan editorial yang banyak berisi idiom, bahasa gaul, dan tulisan dengan gaya tertentu.

Mengikuti berita atau cerita bersambung selama beberapa hari atau minggu dapat membantu Anda mempelajari kosakata, kata, atau frase tertentu yang sering diulang.

2. Situs web komunitas belajar 
Situs seperti Busuu dan Livemocha merupakan sumber yang baik untuk belajar bahasa asing secara komprehensif. Cara pembelajaran mendengar dan mengulang mungkin tidak selalu cocok dengan setiap orang yang mau belajar. Namun, satu sumber yang paling baik di situs-situs semacam ini adalah forum komunitasnya. Anda bisa terhubung dengan native speakers dari bahasa asing yang memang ingin dipelajari.

Komunitas semacam ini memang dirancang untuk chatting atau mengoreksi satu sama lain dalam menulis atau berbicara. Situs ini juga memiliki model pembelajaran seperti "online-dating" yang memungkinkan mereka yang mau belajar untuk terhubung dengan mudah.

3. Lirik lagu 
Musik adalah kendaraan yang baik untuk mengingat bahasa asing. Pada faktanya, proses pembelajaran dapat terjadi begitu saja, seperti yang dialami oleh para pendengar lagu "Gangnam Style".

Banyak lagu dalam bahasa asing yang ingin kita pelajari memiliki nilai-nilai pembelajaran. Namun, lagu terbaik yang perlu dicari adalah lagu-lagu klasik, yang kira-kira satu zaman dengan "Fly Me to the Moon" atau "Yesterday". Lagu yang populer seperti ini cukup terkait dengan bahasa dan tema kehidupan sehari-hari. Video dengan lirik lagu juga bisa ditemukan dengan mudah di Youtube.

Untuk Anda yang belajar bahasa Italia, bisa belajar lagu "Volare (Nel Blu, Dipinto di Blu)", sementara Anda yang ingin belajar bahasa Jerman bisa mendengarkan lagu klasik "Lili Marleen". Manfaat lain dari lagu klasik adalah Anda dapat sering menemukan petunjuk untuk belajar dari lirik lagu secara online yang memang dirancang oleh para guru.

4. Kelompok diskusi bahasa 
Apa ini? Untuk Anda yang tinggal di kota, kelompok ini dapat menjadi aset yang baik untuk mempraktikkan kemampuan berbicara Anda dan bertukar sumber pembelajaran dengan rekan lainnya. Komunitas ini melibatkan mereka yang belajar langsung dengan native speakers. Facebook dan Meetup.com misalnya.

Kemampuan berbicara adalah salah satu kemampuan berbahasa yang sering diabaikan ketika belajar sendiri. Namun, ini adalah kemampuan yang sangat penting. Pada saat Anda mempraktikkannya pada native speakers, dia bisa memberikan tips-tips penting mengenai pelafalan dan berbicara sehari-hari.

Bisa bersosialisasi menjadi bonus. Hubungan persahabatan menjadi motivator yang besar untuk pengembangan kemampuan berbahasa asing.

5. Podcasts
Orang-orang yang belajar bahasa asing sendiri biasanya kurang bisa menangkap secara alami ketika belajar dengan menggunakan kaset atau CD rekaman. Podcasts menjadi salah satu solusinya karena dapat menjadi alat belajar yang mudah diakses.

Para pemula dapat menemukan podcasts secara spesifik langsung sesuai dengan bahasa yang ingin dipelajarinya, seperti "Coffee Break Spanish" atau "Talk Me in Korean". Sementara itu, mereka yang sudah di kelas advance bisa mengunduh podcasts sesuai bahasa yang sedang dipelajari dan juga sesuai dengan minat atau hobi mereka, misalnya "Inter’s La Marche de l’Histoire", podcast bahasa Perancis untuk mereka yang gemar dengan sejarah.